Assalamu'alaikum War Wab
Renungan :
NAKALAN
(Sikarang Batukapur, makhluk dungu penggembala angin)
Assalamu’alakum War Wab
“Nakalan” adalah sebuah kata dalam bahasa jawa, berasal dari kata dasar “nakal” mendapat
akhiran “an”.”Nakal” dalam bah-9asa jawa maupun dalam bahasa Indonesia
pengertiannya sama, yaitu suatu tindakan yang melanggar aturan. Sedangkan “Nakalan”,
pengertiannya adalah suatu tidadakan yang maunya menang sendiri. Perlakuannya
selalu minta dibenarkan, sedangkan orang
lain yang tidak sefaham divonis salah. Jika tidak ada alasan bagi orang lain
untuk berbeda faham, atau peraturan mengharuskan semua orang harus berpersepsi sama, maka tidak
ada perilaku yang disebut nakalan, justru sebaliknya digelari promotor.
Kali ini saya akan mengupas tentang perilaku orang-orang yang mendapat julukan “Nakalan”dalam hal
mencari masa pada sebuah pemilihan seorang pemimpin. Sudah jelas-jelas landasan
hukumnya yaitu “LUBER JURDIL”, kepanjangan dari kata “Langsung ,Umum.
Bebas, Rahasia, Jujur, dan Adil”, eee…..masih
juga dilanggar.
Sementinya public angkat jempol donk, dengan landasan yang sangat-sangat
menghargai perbedaan pendapat itu, sehingga terjaga toleransi yang harmonis
untuk semua orang yang punya pilihan beragam. Dan apapun yang dipilih, itu
merupakan hak pribadi yang tidak boleh diganggu. Akan tetapi karena sifat egois yg telah terlanjur
menyatu dengan aliran darah para pelaku tindakan nakalan, sehingga tak jarang
akal waraspun bertekuk lutut dengan ambisi yang menjadi-jadi. Yang demikian
inilah yang pada titik puncak kebuntuan jalan pikirannya, atau karena kecemasan
takut gagal yang membabi-buta, akhirnya jurus pamungkasnya yaitu perilaku
nakalan segera digunakan.
Lantas, jurus pamungkas yang mereka andalkan itu kayak apa ? Begini
pembaca yang budiman, jurusnya itu berupa tindakan yang tidak santun. Untung
kalau hanya memprovokasi, membohongi masa dengan keterangan yang keliru, sampai
dengan tinda
kan menakut-nakuti saja, bagi masa yang tegar pendiriannya tak
bakal terkecoh. Tinggal masanya saja yang diuji
tingkatan kwalitas berpikirnya untuk meminta para pelaku tindakan
nakalan itu agar menyampaikan/ fakta
yang valid. Tapi Kalau sampai mereka itu
melakukan tindakan pengancaman. Wah…, yang model beginian ini yang tak patut
ditolelir, karena telah terlalu berani menantang peraturan yang berlalu. Lagi
pula, walaupun mereka itu disebut-sebut sebagai orang yang punya segalanya,
tapi yang pasti satu yang tidak dimiliki,yatu “malu”.
Pada akhirnya saya mengajak siapapun yang tengah terlibat dalam urusan
pilih-memilih pemimpin, untuk membiasakan diri menghargai pendapat orang lain,
apalagi pendapat yang dipayungi oleh aturan dan hak asasi. Disamping itu
marilah kita menjadi pelaku yang santun dan punya malu, agar kenyamanan
bersosialisasi tetap terjaga. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan taufiq
dan hidayah-Nya. Amiin Yaa Robal Alamiin.
“Selamat untuk memilih dan dipilih”
Wassalamu’alaikum War Wab.
Pati Utara, 22 Maret 2015


Tidak ada komentar:
Posting Komentar