Sabtu, 21 Maret 2015

Selamat Datang di Blog Sikarang Batukapur (Makhluk dungu pengembala angin)

   
Assalamu'alaikum War Wab



Renungan :

NAKALAN
(Sikarang Batukapur, makhluk dungu penggembala angin)


Assalamu’alakum War Wab



“Nakalan” adalah sebuah kata dalam bahasa  jawa, berasal dari kata dasar “nakal” mendapat akhiran “an”.”Nakal” dalam bah-9asa jawa maupun dalam bahasa Indonesia pengertiannya sama, yaitu suatu tindakan  yang melanggar aturan. Sedangkan “Nakalan”, pengertiannya adalah suatu tidadakan yang maunya menang sendiri. Perlakuannya selalu minta dibenarkan, sedangkan  orang lain yang tidak sefaham divonis salah. Jika tidak ada alasan bagi orang lain untuk berbeda faham, atau peraturan mengharuskan  semua orang harus berpersepsi sama, maka tidak ada perilaku yang disebut nakalan, justru sebaliknya digelari promotor.

Kali ini saya akan mengupas tentang perilaku orang-orang  yang mendapat julukan “Nakalan”dalam hal mencari masa pada sebuah pemilihan seorang pemimpin. Sudah jelas-jelas landasan hukumnya yaitu “LUBER JURDIL”, kepanjangan dari kata “Langsung ,Umum. Bebas,  Rahasia, Jujur, dan Adil”, eee…..masih juga dilanggar.

Sementinya public  angkat jempol  donk, dengan landasan yang sangat-sangat menghargai perbedaan pendapat itu, sehingga terjaga toleransi yang harmonis untuk semua orang yang punya pilihan beragam. Dan apapun yang dipilih, itu merupakan hak pribadi yang tidak boleh diganggu. Akan  tetapi karena sifat egois yg telah terlanjur menyatu dengan aliran darah para pelaku tindakan nakalan, sehingga tak jarang akal waraspun bertekuk lutut dengan ambisi yang menjadi-jadi. Yang demikian inilah yang pada titik puncak kebuntuan jalan pikirannya, atau karena   kecemasan  takut gagal yang membabi-buta,  akhirnya jurus pamungkasnya yaitu perilaku nakalan segera digunakan.
Lantas, jurus pamungkas yang mereka andalkan itu kayak apa ? Begini pembaca yang budiman, jurusnya itu berupa tindakan yang tidak santun. Untung kalau hanya memprovokasi, membohongi masa dengan keterangan yang keliru, sampai dengan tinda
kan menakut-nakuti saja, bagi masa yang tegar pendiriannya tak bakal terkecoh. Tinggal masanya saja yang diuji  tingkatan kwalitas berpikirnya untuk meminta para pelaku tindakan nakalan itu  agar menyampaikan/ fakta yang valid. Tapi Kalau sampai mereka  itu melakukan tindakan pengancaman. Wah…, yang model beginian ini yang tak patut ditolelir, karena telah terlalu berani menantang peraturan yang berlalu. Lagi pula, walaupun mereka itu disebut-sebut sebagai orang yang punya segalanya, tapi yang pasti satu yang tidak dimiliki,yatu “malu”.

Pada akhirnya saya mengajak siapapun yang tengah terlibat dalam urusan pilih-memilih pemimpin, untuk membiasakan diri menghargai pendapat orang lain, apalagi pendapat yang dipayungi oleh aturan dan hak asasi. Disamping itu marilah kita menjadi pelaku yang santun dan punya malu, agar kenyamanan bersosialisasi tetap terjaga. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya. Amiin Yaa Robal Alamiin.

“Selamat untuk memilih dan dipilih”

Wassalamu’alaikum War Wab.



Pati Utara, 22 Maret 2015